HIPOKSIA dan ASFIKSIA *pada Bag. Forensik*

PENDAHULUAN
Asfiksia merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyatakan berhentinya respirasi yang efektif (cessation of effective respiration) atau ketiadaan kembang kempis (absence of pulsation). Asfiksia adalah kumpulan dari pelbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal, mengakibatkan oskigen darah berkurang (hipoksia) disertai peningkatan kadar karbondioksida (hiperkapnea).
Hipoksia sendiri adalah suatu keadaan di mana tubuh sangat kekurangan oksigen sehingga sel gagal melakukan metabolisme secara efektif. Dahulu keadaan ini disebut anoksia, yang ternyata setelah dipelajari pemakaian istilah anoksia ini tidak tepat. Berdasarkan penyebabnya hipoksia dibagi menjadi 4 kelompok, yakni :
1. Hipoksia hipoksik (dahulu = anoksia anoksik) :
Adalah keadaan hipoksia yang disebabkan karena kurangnya oksigen yang masuk paru-paru sehingga oksigen tidak dapat mencapai darah dan gagal untuk masuk dalam sirkulasi darah. Kegagalan ini bisa disebabkan adanya sumbatan / obstruksi di saluran pernapasan, baik oleh sebab alamiah (misalnya penyakit yang disertai dengan penyumbatan saluran pernafasan seperti laringitis difteri, status asmatikus, karsinoma bronchonenik, dan sebagainya) atau oleh trauma/kekerasan yang bersifat mekanik, seperti tercekik, penggantungan, tenggelam dan sebagainya.
2. Hipoksia anemik (anoksia anemik)
Adalah keadaan hipoksia yang disebabkan karena darah (hemoglobin) tidak dapat mengikat atau membawa oksigen yang cukup untuk metabolisme seluler, seperti pada keracunan karbon monoksida, karena afinitas CO terhadap hemoglobin jauh lebih tinggi dibandingkan afinitas oksigen dengan hemaoglobin (Ingat teori pertukaran / difusi O2 dan CO2 serta kurva disosiasi)
3. Hipoksia stagnan (anoksia stagnan)
Adalah keadaan hipoksia yang disebabkan karena darah (hemoglobin) tidak mampu membawa oksigen ke jaringan oleh karena kegagalan sirkulasi, seperti pada heart failure atau embolisme, baik emboli udara vena maupun emboli lemak.
4. Hipoksia histotokik (anoksia histotoksik)
Keadaan hipoksia yang disebabkan karena jaringan yang tidak mampu menyerap oksigen, salah satu contohnya pada keracunan sianida. Sinida dalam tubuh akan menginaktifkan beberapa enzim oksidatif seluruh jaringan secara radikal, terutama sitokrom oksidase dengan mengikat bagian ferric heme group dari oksigen yang dibawa darah. Dengan demikian, proses oksidasi-reduksi dalam sel tidak dapat berlangsung dan oksihemoglobin tidak dapat berdisosiasi melepaskan oksigen ke sel jaringan sehingga timbul hipoksia jaringan. Hal ini merupakan keadaaan paradoksal, karena korban meninggal keracunan sianida mengalami hipoksia meskipun dalam darahnya kaya akan oksigen.

Ketiga jenis hipoksia yang terakhir (yakni hipoksia anemik, stagnan dan histotoksik) disebabkan penyakit atau keracunan, sedangkan hipoksia yang pertama (yakni hipoksia hipoksik) disebabkan kurangnya oksigen atau obstruksi pada jalan nafas baik karena penyakit maupun sebab kekerasan (yang bersifat mekanik). Asfiksia mekanik (mechanical asphixia) adalah jenis yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut nyawa manusia. Dalam kedokteran forensik istilah asfiksia, sering disebut dengan mati lemas.

JENIS ASFIKSIA MEKANIK
Terdapat beberapa jenis kejadian yang dapat digolongkan sebagai asfiksia mekanik, yakni :
1. Penutupan saluran pernafasan bagian atas :
a. Suffocation
Peristiwa suffokasi dapat terjadi jika oksigen yang ada di udara lokal kurang memadai, seperti misalnya di dalam satu ruang kecil tanpa ventilasi cukup berdesak-desakan dengan banyak orang, pertambangan yang mengalami keruntuhan, ataupun terjebak di dalam ruang yang tertutup rapat. Kematian dalat terjadi dalam beberapa jam, tergantung dari luasnya ruangan serta kebutuhan oksigen bagi orang yang berada di dalamnya. Sebab kematian pada peristiwa sufokasi, biasanya merupakan kombinasi dari hipoksia, keracunan CO2, hawa panas dan kemungkinan juga cedera yang terjadi, misalnya pada saat peristiwa kebakaran gedung.
b. Smothering
Smothering (pembekapan) adalah bentuk safiksia yang disebabkan oleh penutupan lubang hidung dan mulut. Penutupan dpat dilakukan dengan mengguankan tangan atau suatu benda yang lunak, misalnya bantal atau selimut yang dilipat.
Peristiwa pembekapan dapat terjadi karena pembunuhan, kecelakaan atau bunuh diri. Kecelakaan dapat terjadi ketika anak-anak bermain dengan memasukkan kepala ke dalam kantong plastik dan mengikatnya di leher, meskipun cara ini juga dapat digunakan oleh orang dewasa untuk melakan pembunuhan atau bunuh diri.
c. Gangging & choking
Keduanya merupakan jenis asfiksia yang disebabkan blokade jalan nafas oleh benda asing yang datangnya dari luar ataupun dari dalam tubuh, misalnya seperti inhalasi mutahan (aspirasi), tersedak makanan, tumor, jatuhnya lidah ke belakang ketika dalam keadaan tidak sadar, bekuan darah atau lepasnya gigi palsu. Gejalanya sangat khas, yakni dimulai dengan batuk-batuk yang terjadi secara tiba-tiba, kemudian disusul sianosis dan akhirnya meninggal.
Peristiwa ini dapat karena bunuh diri (meskipun sulit untuk memasukkan benda asing ke dalam mulutnya sendiri, karena akan ada reflek batuk atau muntah), pembunuhan (umumnya korban adalah bayi, orang dengan fisik lemah atau tak berdaya) dan kecelakaan (misalnya tersedak makanan hingga menyumbat saluran nafas).
Mekanisme kematian yang mungkin terjadi adalah asfiksia atau refleks vagal akibat rangsangan pada reseptor nervus vagus di arkus faring yang menimbulkan inhibisi kerja jantung dengan akibat cardiac arrest dan kematian.
Pada gangging, sumbatan terdapat dalam orofaring, sedangkan pada choking sumbatan terdapat lebih dalam, yakni pada laringofaring.

2. Penekanan dinding saluran pernafasan
a. Stranggulation
Penjeratan, adalah penekanan benda asing yang permukaannya relatif sempit dan panjang, dapat berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, dan sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat di mana kekauatan jeratan berasal dari tarikan keua ujungnya, sehingga secara berturutan pembuluh darah balik, arteri superfisial dan saluran nafas tertutup. Biasanya arteri vertebralis tetap paten, hal ini disebabkan karena kekuatan atau beban yang menekan pada penjeratan biasanya tidak besar. Mekanisme matinya bisa karena tertutupnya jalan nafas hingga terjadi asfikisa, atau tertutupnya vena hingga anoksia otak, atau refleks vagal atau karena tertutupnya arteri karotis sehingga otak kekurangan darah.
Penjeratan biasanya merupakan peristiwa pembunuhan, meskipun dapat karena bunuh diri maupun kecelakaan (misalnya selendang yang dililitkan di leher tertarik roda saat mengendari motor).
b. Manual strangulation/throttling
Pencekikkan adalah penekanan leher dengan tangan yang menyebabkan dinding saluran nafas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran nafas, sehingga udara pernafasan tidak dapat lewat. Mekanisme matinya adalah karena asfiksia ataupun refleks vagal yang terjadi akibat rangsang pada reseptor nervus vagus pada corpus caroticus di percabangan arteri karotis interna dan eksterna.
Cekikkan merupakan jenis strangulasi yang hampir selalu disebabkan oleh pembunuhan. Dapat disebabkan kecelakaan, misal pada saat latihan bela diri atau pembuatan film, meskipun sangat jarang dan tidak mungkin digunakan untuk bunuh diri, sebab cekikkan akan lepas begitu orang yang melakukan bunuh diri itu muali kehilangan kesadaran.
c. Hanging
Penggantungan / peristiwa gantung adalah peristiwa di mana seluruh atau sebagian dari berat tubuh seseorang ditahan di bagian lehernya oleh sesuatu benda dengan permukaan yang relatif sempit dan panjang (biasanya tali) sehingga daerah tersebut mengalami tekanan. Kasus ini hampir sama dengan penjeratan, bedanya adalah asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil jeratan. Pada penjeratan, tenaga datang dari luar, sedangkan pada penggantungan, tenaga bersal dari berat badan korban sendiri, meskipun tidak perlu seluruh berat badan digunakan.
Pada penggantungan tidak harus seluruh tubuh berada di atas lantai, sebab dengan tekanan berkekuatan 10 pon pada leher sudah cukup menghentikan aliran darah di daerah itu. Sehingga tindakan gantung diri dapat saja dilakukan dengan sebagian tubuh tetap berada/menempel lantai.
Peristiwa penggantungan tidak identik dengan bunuh diri, karena bisa saja karena pembunuhan maupun kecelakaan.
Mekanisme kematian pada peristiwa penggantungan bisa karena asfiksia, gangguan sirkulasi darah ke otak (akibat terhambatnya aliran arteri-arteri leher), refleks vagal ataupun karena kerusakan medulla spinalis akibat dislokasi/fraktur vertebra cervicalisd (bisa pada sendi atlantoaxial).
3. Penekanan dinding dada dari luar (asfiksia traumatik)
Terjadi akibat penekanan dari luar pada dinding dada yang menyebabkan dada terfiksasi, kadang hingga perut, hingga menimbulkan gangguan gerak pernafasan, misalnya saat dada atau seluruh badan tertimbun pasir, tanah, runtuhan tembok, tergencet saat saling berdesakan, ataupun tergencet stir mobil. Akibatnya gerakan pernafasan tidak mungkin terjadi sehingga tubuh mengalami asfiksia. Istilah lain untuk asfiksia jenis ini adalah crush asphyxia.
4. Saluran pernafasan terisi air (tenggelam/drowning)
Kematian karena tenggelam biasanya didefinisikan sebagai kematian akibat mati lemas disebabkan masuknya cairan ke dalam saluran pernafasan. Istilah tenggelam sebenarnya harus pula mencakup proses yang terjadi akibat terbenamnya korban dalam air yang menyebabkan kehilangan kesadaran dan mengancam jiwa, meskipun pada peristiwa tenggelam tidak seluruh tubuh harus masuk dalam air. Asalkan lubang hidung dan mulut berada di bawah permukaan air, maka hal itu sudah cukup memenuhi kriteria peristiwa tenggelam. Berdasarkan pengertian tersebut, maka peristiwa tenggelam tidak hanya terjadi di laut atau sungai tetapi juga dapat terjadi di dalam watafel atau ember berisi air.

GEJALA DAN PATOFISIOLOGI ASFIKSIA
Pada orang yang mengalami asfiksia, akan timbul gejala yang dapat dibedakan dalam empat stadium, yakni :
1. Dispnue
• Penurunan kadar oksigen sel darah dan penimbunan CO2 dalam plasma akan merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata, sehingga amplitudo pernafasan dan frekuensi pernafasan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak tanda sianosis, terutama paada muka dan tangan..
• Durasi 4 menit.
2. Konvulsi
• Akibat kadar CO2 yang naik, maka timbul rangsang terhadap susunan saraf pusat sehingga terjadi konvulsi, semula klonik, tetapi kemudian menjadi kejang tonik dan akhirnya timbul kejang epistotonik (seperti kejang pada tetanus). Pupil dilatasi, bradikardi dan tekanan darah menurun oleh karena paralise pada pusat syaraf yang letaknya lebih tinggi.
• Durasi 2 menit,
3. Apnue
• Pusat pernafasan mengalami depresi yang berlebihan, dengan gejala nafas sangat lemah atau berhenti, kesadaran menurun, dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran feses, urin dan sperma
• Durasi 1 menit.
4. Stadium akhir
• Paralise total pusat pernafasan, jantung masih berdenyut beberapa saat postapneu.
• Pernafasan berhenti setelah kontraksi otomatis otot pernafasan kecil pada leher.

Massa dari saat asfiksia timbul hingga terjadi kematian sangat bervariasi, tergantung dari tingkat penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan tanda-tanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.

TANDA ASFIKSIA
Pada jenazah yang meninggal akibat asfiksia akan dapat dijumpai tanda-tanda umum sebagai berikut :
1. Sianosis
Kurangnya oksigen menyebabkan darah lebih encer dan lebih gelap. Warna kulit dan mukosa terlihat lebih gelap. Tanda ini juga terdapat umum pada banyak kematian.
Warna lebam mayat merah kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. Distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin dalam darah sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir.
Pada kasus keracunan sianida dan CO, lebam jenazah berwarna merah terang meskipun tidak selalu demikian, sebab masing-masing mempunyai kadar oskihemoglobin dan CO-Hb yang tinggi.

2. Kongesti vena
Kongesti yang terjadi di paru-paru pada kematian karena asfiksia bukan merupakan tanda yang khas. Kongesti yang khas asfiksia bila kongesti sistemik pada kulit dan organ selain paru-paru, termasuk dilatasi jantung kanan. Sebagai akibat dari kongesti vena, akan terlihat adanya bintik-bintik perdarahan (petechial haemorrages) atau disebut tardieu’s spot. Bintik perdarahan terjadi karena timbulnya peningkatan permeabilitas kapiler dan juga karena rusak/pecahnya dinding endotel kapiler akibat hipoksia. Bintik perdarahan ini lebih mudah terjadi pada jaringan longgar, seperti misalnya jaringan bawah kelopak mata, atau organ dengan membran trasnparan (pleura, perikardium). Pada asfiksia hebat, bintik perdarahan dapat terlihat pada faring dan laring.
3. Edema
Disebkan karena kerusakan pada pembuluh kapiler sehingga permeabilitas meningkat, hingga menyebabkan edema terutama pada paru-paru.

Adapun tanda-tanda lain yang lebih spesifik pada berbagai asfiksia mekanik dapat dikaitkan dengan penyebab atau peristiwa atau cara kematiannya, yakni antara lain:
• Pembekapan :
• Bila pembekapan dengan menggunakan benda lunak, maka pada pemeriksaan luar mungkin tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
• Kekerasan yang mungkin terdapat adalah luka lecet jenis tekan atau geser, goresan kuku dan luka memar pada ujung hidung, bibir, pipi dan dagu yang mungkin terjadi akibat korban melawan.
• Luka memar atau lecet pada bagian/permukaan dalam bibir, adalah akibat bibir yang terdorong dan menekan gigi, gusi dan lidah.

• Gagging dan Chocking :
• Dalam rongga mulut ditemukan sumbatan benda asing.

• Penjeratan
• Jejas jerat biasanya mendatar, melingkari leher dan umumnya terdapat lebih rendah daripada jejas jerat pada gantung. Jejas jerat biasanya terletak setinggi atau di bawah rawan gondok.
• Bila jerat kasar seperti tali dan tekanan kuat, maka dapat meninggalkan luka lecet yang tampak jelas berupa kulit yang mencekung berwarna coklat yang dengan perabaan teraba kaku seperti kertas perkamen.
• Pada peristiwa pembunuhan sering ditemukan adanya lecet-lecet atau memar di sekitar jejas jerat, biasanya terjadi karena korban berusaha membuka jeratan.
• Pada pemeriksaan dalam leher di sekitar jeratan, bisa tampak resapan darah pada otot dan jaringan ikat, fraktur dari tulang rawan reutama rawan gondok, dan kongesti jaringan ikat, kelenjar limnfe dan pangkal lidah.
• Sering ditemukan adanya buih halus kemerahan pada jalan nafas

• Pencekikan
• Pada pemeriksaan luar, tampak pembendungan pada kepala dan muka karena tertekannya pembuluh vena dan arteries superficial, sedangkan arteri vertebrallis tidak terganggu.
• Tanda kekerasan pada leher ditemukan dengan distribusi berbeda-beda, tergantung cara mencekik. Luka lecet / memar di daerah leher berupa luka lecet kecil, dangkal berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari
• Resapan darah di bagian dalam leher, terutama di belakang kerongkongan, dasar lidah dan kelenjar thyroid
• Fraktur tulang rawan thyroid, crycoid dan hyoid
• Buih halus lubang mulut dan hidung

• Penggantungan :
• Jejas jerat berupa lekukan melingkari leher, baik penuh atau sebagian dan disekitarnya terlihat bendungan. Arah jejas jerat mengarah ke atas menuju simpul dan membentuk sudut atau jika jejas diteruskan (pada jejas yang tidak melingkar secara penuh) akan membentuk sudut semu.
• Warna jejas coklat kemerahan (karena lecet akibat tali yang kasar), perabaan seperti kertas perkamen. Jeratan akan semakin tidak jelas jejasnya, apabila penggantungan menggunakan alat yang lunak dan atau mempunyai ukuran lebar makin besar. Hal serupa terjadi pula pada penjeratan. Alat tersebut misalnya kain jarik, sprei atau sarung yang digulung.
• Resapan darah pada jaringan bawah kulit dan otot. Tanda ini merupakan salah satu tanda intravital, yakni adanya proses reaksi inflamasi / ekstravasasi sel-sel darah pada jaringan yang menunjukkan bahwa trauma / jeratan terjadi sebelum korban meninggal. Hal serupa pada prinsipnya terjadi pada semua jenis trauma pada semua jaringan.
• Fraktur os hyoid (biasanya pada cornu majus) dan cartilage crycoid
• Lebam mayat dapat ditemukan pada bagian tubuh bawah, anggota bagian distal serta alat genital distal apabila sesudah mati tetap dalam keadaan tergantung cukup lama hingga lebam mayat menetap.
• Lidah akan terlihat menjulur bila posisi tali di bawah kartilago thyroid dan berwarna lebih gelap akibat proses pengeringan. Sebaliknya, apabila lilitan tali di atas kartilago thyroid, lidah tidak akan menjulur.

TENGGELAM
Karena mekanisme kematian pada kasus tenggelam bukan murni disebabkan oleh asfiksia, maka ada sementara ahli yang tidak memasukkan tenggelam ke dalam kelompok asfiksia mekanik.
Dikenal beberapa terminologi yang terkait kasus tenggelam, antara lain :
1. Wet drowning.
Pada keadaan ini cairan masuk ke dalam saluran pernafasan setelah korban tenggelam. Kematian terjadi setelah korban menghirup air. Jumlah air yang dapat mematikan, jika dihirup paru-paru adalah sebanyak 2 liter untuk orang dewasa dan 30-40 ml untuk bayi.
2. Dry drowning.
Pada keadaan ini, cairan tidak masuk ke dalam saluran pernafasan, akibat spasme laring dan kematian terjadi sebelum menghirup air.
3. Secondary drowning
Terjadi gejala bebertapa hari setelah korban tenggelam dan diangkat dari dalam air dan korban meninggal akibat komplikasi.
4. Immersion syndrome
Korban tiba-tiba meninggal setelah tenggelam dalam air dingin akibat refleks vagal yang menyebabkan cardiac arrest. Keadaan tersebut hanya dapat dijelaskan oleh karena terjadinya fibrilasi ventrikel dan dapat dibuktikan bahwa pada orang yang masuk ke air dingin atau tersiram air yang dingin, dapat mengalami ventricular ectopic beat. Alkohol dan makan terlalu banyak merupakan faktor pencetus.

Patofisiologi Akibat Tenggelam
• Dalam air tawar
Pada keadaan ini terjadi absorbsi/aspirasi cairan masif hingga terjadi hemodilusi oleh karena konsentrasi elektrolit dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi dalam darah. Air akan masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan pecahnya sel darah merah (hemolisis).
Akibat pengenceran darah yang terjadi, tubuh mencoba mengatasi keadaan dengan melepaskan ion kalium dari serabut otot jantung hingga kadar ion kalium dan plasma meningkat, terjadi perubahan keseimbangan ion K+ dan Ca++ dalam serabuit otot jantung dapat mendorong terjadinya febrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah, yang kemudian menyebabkan timbulnya kematian akibat anoksia otak. Kematian dapat terjadi dalam waktu 5 menit.
• Dalam air asin
Konsentrasi elektrolit cairan asin lebih tinggi daripada dalam darah, sehingga air akan ditarik dari sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru yang akan menimbulkan edema pulmoner, hemokonsentrasi, hipovolemi dan kenaikan kadar magnesium dalam darah. Hemokonsentrasi akan mengakibatkan sirkulasi menjadi lambat dan menyebabkan terjadinya payah jantung. Kematian terjadi kira-kira dalam waktu 8-9 menit setelah tenggelam.

Adapun mekanisme kematian pada orang tenggelam dapat berupa :
1. Asfiksia akibat spasme laring
2. Asfiksia karena gagging dan choking
3. Refleks vagal
4. Fibrilasi ventrikel (dalam air tawar)
5. Edema pulmoner (dalam air asin)

Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam:
• Pakaian / mayat basah, kadang bercampur pasir, lumur dan benda-benda asing lain yang terdapat dalam air.
• Cutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh, terutama pada ekstremitas akibat kontraksi otot errector pilli yang dapat terjadi karena rangsang dinginnya air (sebagai gambaran seperti saat seseorang berdiri bulu kuduknya / “merinding”)
• Kulit telapak tangan dan kaki, kadang menyerupai washer woman hand/skin, yakni berwarna keputihan dan berkeriput yang disebabkan imbibisi cairan ke dalam kulit dan biasanya membutuhkan waktu lama (sebagai gambaran sepert tangan / kulitnya orang setelah mencuci)
• Cadaveric spasm, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban berusaha menyelamatkan diri dengan memegang apa saja benda-benda disekitarnya, seperti rumput atau benda lain dalam air. (sebagai gambaran : tangan korban menggenggam erat hingga sulit dibuka dan biasanya terdapat benda air, misalnya rumput/lumut dalam genggamannya).
• Buih halus dari mulut dan hidung berbentuk seperti jamur (mushroom-like mass) yang terbentuk akibat edema pulmo akut, berwarna putih dan persisten (tetap diproduksi terus, meskipun korban sudah meninggal). Buih semakin banyak jika dada ditekan.
• Luka memar/lecet/robek bisa ditemukan pada beberapa bagian tubuh, akibat benturan dengan benda-benda keras dalam air (misalnya batu sungai atau karang laut) pada saat tenggelam

Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam:
• Pada saluran nafas (trakhea & bronkhus) terdapat buih.
• Emphysema aquosum, yakni keadaan paru-paru membesar dan pucat seperti paru-paru penderita asma tetapi lebih berat dan basah, di banyak bagian terlihat gambaran seperti marmer, bila permukaannya ditekan meninggalkan lekukan dan bila diiris terlihat buih berair.
• Bercak hemolisis pada dinding aorta. Bercak “paltauf” yaitu bercak perdarahan yang besar (diameter 3-5 cm), terjadi karena robeknya partisi inter alveolar dan sering terlihatn di bawah pleura.
• Pemeriksaan berat jenis dan kadar elektrolit pada darah yang berasal dari bilik jantung kiri dan kanan. Bila tenggelam di air tawar, berat jenis dan kadar elektrolit dalam darah jantung kiri lebih rendah dari jantung kanan, sedangkan pada tenggelam di air asin terjadi sebaliknya
• Lambung dan esofagus terisi air beserta pasir dan benda air lain.
• Benda air (diatom) di jaringan paru, darah, ginjal, tulang.

REFERENSI

1. Idries, Abdul Mun’im, 1997, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Binarupa Aksara, Jakarta, Hal 170-190.
2. Knight, B., 1996, Forensic Pathology, 2 nd Edition, Oxford University Press Inc, New York, Page 345-360.
3. Simpson, K., 1979, Forensic Medicine, Eighth Edition, The English Language Book Society an Edward Arnold (Publishers) Ltd, Page 91-112
4. Budiyanto, A., dkk, 1997, Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik, FK UI, Hal 55-70.
5. Dahlan S., 2000, Ilmu Kedokteran Forensik, Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum, Badan Penerbit Undip, Hal 107-124

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

langgananQuw ^^

  • Tidak ada

Isi dalam Cintaku^^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: