Tebaran Cahayanya

Terasa hambar bila di rasakan dengan hati. menengok kearah yg sama, dari bukit seperti melihat dataran rendah yg gampang di pijak. Entah mata atau perasaan yang bermain di sini. bagian otot visual mulai rugor, katatonik, mungkin bisa di sebut bisu. Cahaya, mulai menerangi hati tiada batasan, sepertinya rembesan cahayanya mulai masuk ke seluruh jaringanku, hingga kini aku tidak menyipitkan mataku lagi, jelas dan singkat. Andaikan, cahaya itu benar jadi bagian dari hidupku yg hampir semu tanpa titik tapi masih koma.

Tatapn mulai layu, tp ketika melihat kmbali cahayanya yg selintas, yang mortis menjadi hidup kmbali, yang kaku kmbali tersenyum, dan sepertinya cahaya itu mempunyai suatu reseptor yang pas denganku. mungkin karena dia mempunyai enzim yg tepat dengan reseptorku.

Tuhan, diri yg lemah ini tak bisa berkata apa2 ketika cahayanya mulai bangkit, Tuhan… ini apakah kejam??? ketika cahaya itu sekali kali menyebar sinarnya yg lembut, dan hatiku masih terpaut dengan gembok pintu yg terkadang kuncinya hilang, apakah aku harus membuka kunci itu lagi? hmmmm… Aku tak bisa tahan untuk terus mendekati cahaya itu, rasanya ingin aku mnjadikanya sebagai salah satu analgetikku, peredamku, eksitatorku…???
ataukah aku harus mencopot alat2 bantu ini,,sehingga brain death memsahkn aku dengan cahaya?? sehingga waktunya jaringanku tak bisa bertahan lagi?? semoga amigdalaku ttp berfungsi, sehingga cerita ttg cahaya tidak bisa hilang, sampai kematian somatisku datang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

langgananQuw ^^

  • Tak ada

Isi dalam Cintaku^^

%d blogger menyukai ini: