Visum et Repertum

VISUM ET REPERTUM

DEFINISI
Di dalam pengertian secara hokum Visum er Repertum (VR), adalah :

– “ suatau surat keterangan seorang dokter yang memuat kesimpulan suatu pemeriksaan yang telah dilakukannya, misalnya atas mayat seseorang untuk menentukan sebab kematian dan lain sebagainya, dalam suatu perkara” ( Prof. Subekti SH. ; Tjitsudibio, dalam kasus hokum tahun 1972)
– Laporan dari ahli untuk pengadilan, khususnnya dari pemeriksaan oleh dokter, dan di dalam perkara pidana” ( Fockeman – Andrea dalam Rechtsgeleerd Handwoordenboek, tahun 1977)
– Suatu surat keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah / janji (jabatan/khusus), tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya.
– Suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta memuat pula kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna kepentingan keadilan.

DASAR-DASAR HUKUM

Baik di dalam kitab Hukum Acara Pidana yang lama, yaitu RIB maupun kitab Hukum Acara Pidana (KUHP) Tidak ada satu pasalpun yang memuat perkataan VR. Hanya didalam lembaran Negara tahun 1973 No. 350 pasal 1 dan pasal 2 yang menyatakan bahwa visum et Repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atau sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang dipriksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana.

Bila kita lihat perihal apa yang dimaksudkan dengan alat bukti yang sah menurut KUHP pasal 184 ayat 1; yaitu :

1. keterangan saksi
2. keterangan ahli
3. surat
4. petunjuk
5. keterangan terdakwa

Pasal 133 KUHAP menyebutkan:

(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu
sebagaimana bunyi pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP.

Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu
penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana
umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena
visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta visum et repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP).

Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana :

Pasal 216 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu,
atau oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk
mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja
mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan
ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu
atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

KUHAP Pasal 120
Dalam hal penyidik menganggap perlu,ia dpt minta pendapat ahli / orang yg memiliki keahlian khusus

.KUHAP Pasal 179
Setiap orang yg diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman / dokter / ahli lainnya, wajib memberikan ket. Ahli Demi keadilan.

TUJUAN PEMBUATAN VER

Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.

PERBEDAAN VISUM ET REPERTUM DENGAN CATATAN MEDIK DAN SURAT KETERANGAN MEDIK LAINNYA

Catatan medik  catatan tentanf sedluruh hasil pemeriksaan medik beserta tindakan pengobatan/perawatannya, yang merupakan milik pasien, meskipun dipegang oleh dokter/institusi kesehatan. Catatan medik ini terikat pada rahasia pekerjaan dokter yang diatur oleh peraturan pemerintah No 10 tahun 1966 dengan sanksi hukum seperti dalam pasal 322 KUHP. Dokter boleh membuka isi catatan kepada pihak ke tiga, misalanya dalam bentuk keterangan medik, hanya setelah memperoleh izin dari pasien, baik merupakan izin langsung maupun berupa perjanjian yang dibuat sebelimnya antara pasien dengan pihak ketiga tertentu. (misal. Perusahan asuransi)

VeR dibuat atas kehendak undang2, maka dokter tidak dapat dituntut karena membuka rahasia pekerjaan sebagaimana diatur dalam pasal 322 KUHP, meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien. Pasal 50 KUHP mengatakan bahwa barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang tindakan pidana, sepanjang Visum et Repertum tersebut hanya diberikan kepada instansi penyidik yang memintanya, untuk selanjutnya dipergunakan dalam proses peradilan.

JENIS DAN BENTUK VISUM ET REPERTUM
Jenis :
1. VeR perlukaan (keracunan)
2. VeR kejahatan susila
3. VeR jenazah
4. VeR Psikiatrik

Visum et Repertum terdiri dari 5 bagian yang tetap, yaitu :
1. kata Pro Justitia,
 diletakan bagian atas. Tulisan ini diberikan untuk tujuan peradilan. Membutuhkan materai untuk sebagai barang bukti di depan sidang pengadilan yang mempunyai keutamaan hukum.

2. Pendahuluan,
Menbuat identitas dokter pemeriksa membuat VeR, Identitas peminta VeR, saat dan tempat dilakukannya, pemeriksaan dan identitas barang bukti (manusia), sesuai dengan identitas tertera di dalam surat permintaanVeR dari pihak penyidik dan label atau segel, tanggal surat permintaannya, tempat dan waktu pemeriksaan

3. Pemberitahuan
Hasilpemeriksaan, memuat segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksa oleh dokter, dengan atau tanpa pemeriksaan lanjutan (pemeriksaan lab), yakni bila dianggap perlu, sesuai dengan kasus dan ada tidaknya indikasi untuk itu. Kalau korban meninggal dan dilakukan otopsi, untuk melakukan pemeriksaan alay2 dalam yang berkaitan dengan perkara matinya orng tersebut.

4. Kesimpulan
Memuat intisari dari bagian pemberitahuan atau hasil pemeriksaan, yang disertai dengan pendapat dokter yang bersangkutan sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Mengenal jenispwerlukaan/cidera yang ditemukan dan jenis kekerasan atau zat penyebanya, serta derajat perlukaan atau sebab kematiannya.

5. Penutup
Bagian ini tidak berjudul dan berisikan tentang kalimat baku ”demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan kitab undang2 hukum acara pidana”.

a. VISUM et REPERTUM PADA KASUS PERLUKAAN

Tujuan pemeriksaan korban hidup untuk mengetahui penyebab luka/sakit dan derajat parahnya luka. Dimna dokter forensik tidak dianjutkan untuk pengobatan.

Catatan medik lengkap, dibuat VeR setelah perawatan/pengobatan selesai, kecuali pada VeR sementara, dan perlu pemeriksaan ulang pada korban bila permintaan pemeriksaan datang terlambat.

Derajat Luka,

Luka Ringan (DERAJAT 1)  tidak menimbuklan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan (sorban tanpa luka, luka lecet atau memar kecil di lokasi yg tdk berbahaya/yg tidakmenurunkan fungís alat tubuh tertentu.

Luka Sedang (DERAJAT II)  Sakit atau luka, menganiaya sengaja dan menimbulkan sakit dan luka.

Luka Berat (DERAJAT III)  Luka yang tidak memberikan harapan sama sekali, tidak akan smbuh sama sekali, menimbulkan bahaya maut, mengganggu pekerjaannya sekali.

Deskripsikan keadaan umum sorban sewaktu datang, luka-luka atau cidera penyakit yg ditemukan pada px. Fisik, uraian tentang letak luka, jenis dan sifat luka serta ukurannya, pemeriksaan khusus/penunjang, tindakan medik yang dilakukan, riwayat peralanan penyakit selama perawatan, keadaan akhir estela perawatan, gejala dan keluhan yg dibuktikan scra objektif.

Pada kesimpulan jangan lupa dicantumkan derajat lukanya.

b. VeR KORBAN KEJAHATAN SUSILA
– tanda2 persetubuhan
– ada tidaknya tanda2 kekerasan
– perkiraan umur
– kapan terjadinya (klo persetubuhan dpt di buktikan)
– penyakit hubungan seksual
– pendamping korban (klo pd anak di bawah umur ibunya/bapaknya)
– pemeriksaan usap vagina
– sampel darah
– pada kesimpulan : perkiraan usia korban, ada atau tidaknya tanda2 persetubuhan klo bila mungkin menyebutkann kapan perkiraan terjadinya dan atau tidaknya kekerasan.

C. VeR JENAZAH

Ada label indentitas mayat, di-lak dengan diberi cap jabatan, yang di ikat pada ibu jari atau bagian tubuhlaiinya, pada surat permintaan visum harus jelas pemeriksaan diminta, apakah pemeriksaan luar jenazah atau autopsi.

Klo autopsi pemeriksa harus meminta izin dari keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuan. Autopsi dilakukan setelah keluarga korban tidak keberatan, dan sesudah 2 hari tidak ada tanggapan. Jenazah didapat dari penggalian kuburan.

Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi pemeriksaan luar jenazah tanpa merusak keutuhan jaringan jenazah. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti, sistematik, dicatat secra rinci, mulai mulai dari bungkus atau tutup jenazah, pakian, benda2 disekitar jenazah, perhiasan, ciri2 umum identitas, tanda2 tanatologik, gigi-geligi, dan luka atau cedera atau kelainan yang ditemukan di seluruh bagian luar.

Klo penyidik hanya minta px. Liar saja maka di kesimpulan di sebutkan jenis luka atau kelainan yg ditemukan dan jenis kekerasan penyebabnya, sedangkan sebab kematiannya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan bedah jenazah. Lamanya kematian sebelum pemeriksaan, apabila dapat ditentukan maka di cantumkan dalam kesimpulan.

Dilakukan bedah mayat menyeluruh dengan membuka rongga tengkorak, leher, dada, perut dan panggul. Pemeriksaan penunjang yg diperlukan seperti pemeriksaan histopatologik, toksikologi serologik.

Pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian korban, selain jenis luka atau kelainan, kejis kekerasan dan penyebabnya, dan saat kematian seperti tersebut diatas.

VeR PSIKIATRIK

– Apakah pelaku kejahatan atau pelanggaran mempunyai penyakit jiwa?
apakah kejahatan atau pelanggaran tersebut merupakan produk dari penyakit jiwa tersebut?
– Penjelasan bagaimana psikodinamiknya sampai kejahatan atau pelanggaran itu dapat terjadi?

1 Komentar (+add yours?)

  1. fx
    Apr 09, 2012 @ 22:50:28

    ringkasan yg membantu..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

langgananQuw ^^

  • Tak ada

Isi dalam Cintaku^^

%d blogger menyukai ini: