Dokter Untuk Bangsa??!!

Menjadi seorang dokter sepertinya masih menjadi cita-cita sebagian besar anak bangsa. Tengoklah di sekolah dasar di penjuru tanah air. Masih banyak yang dengan yakin mengacungkan tangan ketika ditanya ”siapa yang ingin menjadi dokter?”. Begitu pula di SMA. Program studi pendidikan dokter masih menjadi primadona di PTN ataupun PTS.
Tentu kita masih ingat bagaimana kiprah dokter-dokter zaman dulu yang berkarya lebih dari apa yang bisa dilakukan seorang dokter. Masih dapat kita rasakan euforia hari Kebangkitan Nasional beberapa waktu lalu. 100 tahun yang lalu, seorang dokter bernama Soetomo bersama rekan-rekan seprofesinya mendirikan sebuah organisasi sosial dan pendidikan yang menjadi pioner kebangkitan pemuda dari latar belakang yang beragam untuk mendirikan organisasi serupa.
Tugas seorang dokter memang tidak mudah. Dokter dituntut untuk mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani rohani dan produktif secara ekonomi, sosial, dan budaya. Begitulah seharusnya kiprah dokter bagi bangsa. Namun, ada satu hal yang patut dipertanyakan. Jika memang dokter sehasusnya bekerja untuk bangsa, bangsa yang manakah itu? Apakah hanya mereka yang kaya? Ataukah hanya mereka yang tinggal di kota-kota besar? Ada banyak fakta ironis yang dapat kita lihat belakangan ini. Masih banyak rakyat yang menjerit melihat biaya kesehatan yang melangit. Masih banyak anak bangsa yang kurang gizi.masih banyak saudara kita di pedalaman yang harus berjalan puluhan kilo untuk bisa ”berjumpa” dengan sang dokter. Masih banyak pula mereka yang menjadi korban berbagai bencana yang terus-menerus menempa bangsa ini. Di sisi lain, jumlah dokter yang dituduh melakukan malpraktik semakin meningkat. Dokter yang melakukan praktik gelap aborsi juga makin banyak. Belum lagi masalah pemberian obat yang irasional dan menyebabkan menggembungnya biaya pengobatan. Apakah dokter sudah banyak yang tidak punya kepedulian? Apakah mereka sudah menjadi sedemikian (maaf) tamak?
Lalu siapa sebenarnya yang salah? Bukankah biaya sekolah kedokteran memang sangat mahal? Bukankah mahasiswa kedokteran harus belajar mati-matian dan melalui praktikum, ujian, dan pendidikan profesi yang melelahkan? Apakah tidak pantas semua itu dibalas dengan bayaran yang tinggi? Bukankah mereka yang kurang mampu seharusnya dipelihara oleh negara? Memang demikian. Fakultas Kedokteran menjadi sat-satunya yang bisa ”dijual” oleh PTN dan PTS dengan harga mahal. Karena memang banyak orang-orang tua dari kalangan berada yang ingin anaknya menjadi dokter, maka sudah menjadi rahasia umum bahwa biaya masuk Fakultas Kedokteran sangat mahal. Jumlah PTN dan PTS yang membuka program studi pendidikan dokter juga semakin banyak dan secara otomatis, jumlah dokter juga terus bertambah. Alhasil, dokter-dokter seolah-olah berebut lahan praktik. Belum lagi industri obat yang berebut menawarkan perjanjian untuk menggunakan obat mereka dengan balasan bonus yang menggiurkan sehingga banyak dokter yang memberikan obat secara irasional dan melupakan obat generik yang lebih terjangkau. Di lain pihak, masyarakat semakin ketakutan dengan berbagai penyakit. Karena kesehatan adalah kebutuhan primer, mereka tak berdaya menolak biaya yang mahal.
Benarkah semua dokter seperti itu? Dokter harus bangkit. Begitu pula mahasiswa kedokteran. Masih banyak dokter dan mahasiswa kedokteran yang peduli. Mulai dari menjadi relawan di berbagai tempat bencana dan lokasi perang, memilih bertugas di daerah pedalaman, membuka balai pengobatan gratis, ataupun melakukan aksi-aksi damai di jalan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Dokter untuk bangsa memang seharusnya seperti itu. Bekerja dengan profesianal, berusaha memberi melebihi yang mereka mampu. Berkarya maksimal di bidang kedokteran tanpa menutup mata dari bidang strategis lain yang bisa diusahakan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Bersedia berjalan jauh menjangkau saudara di pelosok pedalaman Indonesia. Selalu tersenyum dan mendengarkan keluhan pasien dengan rasa empati.
Jika dahulu dr. Soetomo memulai ikhtiar membangun bangsa bukan hanya dalam bidang kesehatan tetapi juga pendidikan, kita pun seharusnya berani berpikir dan beraksi out of the box. Jangan hanya menunggu sampai menjadi dokter untuk bisa berbuat. Banyak yang bisa kita lakukan dari sekarang. Bangun kepedulian dari sekarang. Tegakkan tunggi-tinggi bangunan idealisme seorang dokter impian dari sekarang. Agar ketika kita nantinya berhadapan dengan realita yang berbeda, setidaknya ada sedikit ruang di hati kita yang tersisa untuk mereka yang tidak mampu ”membeli” jasa kita. Bagaimana mungkin bangsa ini akan maju dan sehat jika para dokter dan calon dokter masih banyak yang ”sakit”? So, act now! Karena bangsa ini telah lelah menunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

langgananQuw ^^

  • Tak ada

Isi dalam Cintaku^^

%d blogger menyukai ini: