berrendah hatilah :D

Saudaraku yang kucintai,
Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir. Ingin sekali rasanya iringan langkah kita tak pernah putus. Terus bersama dan beriring… Kita bahkan selalu berharap agar Allah berkenan memasukkan kita ke dalam surga-Nya, bersama pula. Saudaraku, begitulah ungkapan hati yang muncul kala kita menjalin pertemanan, persaudaraan, persahabatan, karena Allah swt. Kita telah mengawalinya dengan keimanan. Dan keimanan itu harusnya tetap memelihara kita sampai kehidupan abadi di akhirat….

Saudaraku..,
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Mungkin kita sudah terlalu hafal, dengan perkataan bahwa kehidupan ini merupakan ladang bagi akhirat. Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa hidup ini tak lain merupakan tempat ujian. Tempat menanam, tempat menyernai, tempat bekerja dan berjuang. Ia hanya persinggahan, sama sekali bukan akhir perjalanan.Atau, dalam ungkapan Dr. Abdullah Azzam, tokoh jihad legendaris yang syahid di Afghanistan: “Hidup ini jihad, umat ini tidak akan hidup kecuali dengan jihad…”

Saudaraku..,
Jangan putuskan bait-bait do’a kepada Allah agar tetap mengikat hati kita. Sepanjang kebersamaan ini, mungkin sudah banyak amal yang kita lakukan. Di antara kita, banyak yang sudah mengalami letih, lelah, meneteskan peluh dan bahkan terluka, untuk sebuah kebaikan. Di antara kita juga, tak sedikit yang berlinang air mata untuk sebuah keyakinan. Mungkin kita merasa, telah mengukir dan menghiasi amal kita sebaik-baiknya untuk Allah swt. Ikhlas, bersih, tak ada tendensi, Tapi saudaraku, hati-hatilah …. “Berapa banyak lentera yang rnati tertiup angin, Berapa banyak amal ibadah yang dirusak oleh pelakunya sendiri…” begitu nasehat Muhammad Ahmad Rasyid, dalam Al-Awa‘iq.

Perhatikanlah perlahan-lahan, apa yang diungkapkan Fudhail bin Iyadh, tokoh salafushalih di zaman Tabi’in, kepada mereka yang telah beribadah dan beramal shalih. “Iblis akan unggul atas manusia bila berhasil memunculkan salah satu dari tiga sifat. Kekaguman (ujub) seseorang pada diri sendiri, melebih-lebihkan amal sendiri, dan kelupaannya atas dosa-dosanya.” 

Itulah tiga panah syaitan untuk orang-orang yang beramal. Semuanya bermuara dari rasa ujub, bangga, atau kagum, pada diri sendiri. Renungkanlah…

Saudaraku..,
kita bisa saja mengatakan, “aku tak ujub dengan amal-amalku, aku tak melebihkan amal yang kukerjakan dan aku selalu berusaha mengingat dosa-dosaku….” Tapi begitupun, jangan lengah, karena itu semua belum menandakan kita selamat dari perangkap ujub yang lain. Para salafushalih yang mengerti tentang tabiat dan kecenderungan hati, tidak menghentikan pembahasan ujub sampai di sini. Ada banyak anak panah syaitan yang harus diwaspadai.

Dalam sekali nasihat Sofyan Tsauri rahimahullah yang mengingatkan kita tentang hal ini. Katanya, “Kalau engkau tidak ujub dengan dirimu, engkau mungkin saja senang dengan orang yang memujimu dan engkau mungkin juga senang bila dengan pujian itu orang-orang memuliakanmu dengan amalmu. Mereka melihat dirimu mulia dan engkau memiliki tempat tersendiri dalam hati mereka….” 

Senang dengan pujian. Itulah yang dimaksud dalam nasihat Sofyan Tsauri. Inilah anak panah syaitan berikutnya untuk merusak amal. Dan sedihnya, jarang orang yang bisa selamat dari bidikan syaitan ini. Karena itu, Fudhail bin Iyadh memiliki pandangan tajam untuk menimbang dan menyikapinya, Ia mengatakan, “Sesungguhnya terrnasuk tanda- tanda kemunafikan adalah jika seseorang menyukai pujian apa yang tidak ada pada dirinya. Kemudian ia membenci orang yang tidak menyukai dirinya karena sesuatu yang memang ada pada dirinya. Sementara, ia juga membenci orang yang mengetahui aib-aibnya….”

Fudhail bin Iyadh sendiri, sangat berhati-hati dengan soal pujian. Sampai-sampai, diriwayatkan, andai Fudhail mendengar orang memujinya, kondisinya segera berubah menjadi aneh, nafasnya tersengal dan berubah cepat, hingga lisannya mengeluarkan kalimat-kalimat yang mencaci dirinya… 

Saudaraku..,
Panah ujub tak habis sampai di sini, Mungkin saja seseorang tidak ujub pada dirinya, dan tidak suka dengan pujian, tapi ada celah lain yang bisa menjerumuskannya dalam penyakit ujub. Apa itu? “Siapa yang mencaci dirinya sendiri di hadapan orang lain sesungguhnya dia itu termasuk alamat riya,” begitu kata Hasan Al-Bashri. Itu juga termasuk bagian dari ujub, yang kerap tidak disadari oleh pelakunya. Berniat untuk merendahkan diri, tapi yang muncul syaitan justeru membalik keadaannya menjadi ujub.

Ada panah ujub yang lainnya, yakni jika kita cenderung senang bila mendapatkan orang lain melakukan kesalahan. Seperti diingatkan oleh Fudhail, “Di antara alamat munafik adalah bila sesorang senang mendengar kesalahan dan kekeliruan orang lain.” Ini yang paling aneh dan paling sulit dideteksi.

Saudaraku, renungkanlah..
Sesungguhnya Allah sudah terlalu banyak menutupi kekeliruan, keterpelesetan, kesalahan dan aib kita. Itulah nikmat Allah terbesar yang harus kita syukuri. Dari sanalah kita bisa mengendalikan rasa kagum pada diri sendiri, mampu menyikapi pujian, tidak senang mendengar kekurangan orang lain, dan semacamnya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disindir oleh Khalid bin Shafwan, “Ada orang yang tertipu karena Allah menutupi aib-aibnya dari orang lain. Ada juga orang yang tertipu oleh baiknya pujian.” Khalid menambahkan, “Jangan engkau terkalahkan oleh ketidaktahuan orang lain terhadap dirimu, sementara engkau sangat mengetahui kondisimu sendiri….” (Ahmad Rasyid, Al-Awa’iq, 52)

Saudaraku..,
Cukuplah hanya Allah yang mengetahui dan mengenal perbuatan baik yang kita lakukan. Seseorang bisa saja, mendapat nilai seratus dari manusia, namun sesungguhnya ia tak memiliki nilai apa-apa di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang bisa saja, mendapat nilai seratus di sisi Allah, namun ia seperti tidak memiliki nilai apapun di hadapan manusia.

Simaklah sebuah kisah dari seorang tabi’in yang hidup di zaman Umar: Ibnu Auf Ahmasi. “Ketika saya berada di hadapan Umar bin Khattab, datanglah seorang utusan dari Nu’man bin Maqran, salah seorang komandan perang Nahawand. Ia melaporkan nama-nama kaum muslimin yang gugur di medan perang Nahawand. Ia menyebutkan nama mereka satu persatu… fulan… fulan … fulan dan seterusnya. Kemudian utusan itu mengatakan. “Selain itu, kami tidak mengenal nama-nama mereka…” Saat itu, Umar segera mengatakan, “Akan tetapi Allah pasti mengenal mereka….” Dalam lafaz yang lain disebutkan perkataan Umar, “Akan tetapi Yang Memuliakan mereka dengan syahadah, pasti mengenali wajah dan keturunan mereka.” (al Kharaj, Abi Yusuf, 35)

Camkanlah, saudaraku, cukup hanya Allah yang paling berhak menilai dan menghitung amal kita… wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

langgananQuw ^^

  • Tak ada

Isi dalam Cintaku^^

%d blogger menyukai ini: